Rabu, 03 Desember 2014

Rinduku pada Ayah

Hari ini menunjukkan pukul 20.07 wib. Di wisma, di tengah penatnya mengerjakan tugas yang tak kunjung selesai. tetesan rintik hujan pun terdengar.Tiba-tiba aku teringat akan seseorang. Ya, aku teringat sosok seseorang yang biasa ku panggil "Bapak" yang sudah kurang lebih satu setengah bulan aku tak mendengar suaranya. Berbeda dengan yang lainnya, jika  biasanya anak perempuan yang berada jauh dari orang tuanya pasti yang ia rindukan adalah sosok Ibu. Saya rasa itu wajar karena mungkin ibu lah yang lebih sering menelfon dan menanyakan kabar kita. Ibu yang terlihat lebih sering khawatir dengan keadaan kita, ibu yang lebih sering memanjakan kita.

Ya... aku jadi inget waktu pertama kali pergi kuliah, pertama kalinya juga aku pergi jauh dari orang tua. Rasa nya berat sekali mau melangkah, sepanjang malam aku berdo’a berharap malam itu akan berjalan lama dan seandainya saja bisa aku ingin menghentikan waktu itu karena aku merasa belum siap. Apa mau dikata malam pun berganti pagi. Aku tau mungkin tak hanya aku yang tidak bisa tidur nyenyak malam itu tapi juga ibu atau bahkan mungkin ayah.

Seketika itu pula aku melihat ibu menangis dan merangkul ku dengan erat sampai ku rasakan tetesan air mata nya. Tapi aku tidak melihat ada air mata yang menetes dari ayah ku saat itu. Aku hanya melihat senyuman ketika tiap kali ia mengantarkan ku ke terminal. Beberapa nasihat pun selalu ia berikan. Dan yang tidak pernah lupa adalah “hati-hati jalan, kalau udah sampai sms ya”. Ayah tidak memelukku, tidak juga menangis. Tapi aku sangat yakin ayah sangat menyayangi ku. Mungkin ayah hanya ingin agar aku kuat dengan melihat ia tidak menangis. Ia ingin putri kecilnya ini tumbuh dewasa dan tidak jadi anak yang manja. Mungkin itu kenapa ayah lebih keras dan tegas selama ini.

Kini saat aku mulai tumbuh semakin dewasa ayah pun khawatir sama seperti hal nya seorang ibu. Ayah yang berusaha bersi keras gimana cara nya agar masa depan anak nya lebih baik darinya saat ini. Ayah yang mulai khawatir dengan pergaulan anak perempuannya. Ayah yang sering marah dan melarang kita pulang malam. Karena ayah takut terjadi sesuatu pada anak perempuannya. Emmm... mungkin itu juga kenapa aku dilarang pulang kalau udah sore, karena sampai rumah pasti larut malem mending di tunda besok paginya baru pulang. Saat itu juga ayah sedang berusaha menjalankan tugasnya, menjaga amanahnya, yaitu kita anak permpuannya. Ia tidak ingin gagal dalam mendidik anak perempuannya. Jika sejenak aku memikirkan itu semua, itu adalah salah satu cara ayah menunjukkan kasih sayang nya pada kita.

Ayah yang tak pernah mengeluh untuk selalu berusaha mencukupi kebutuhan anak nya. Ayah yang tidak pernah mengatakan “tidak” jika anaknya meminta. Ayah adalah sosok yang selalu terlihat tegar dan kuat bahkan mungkin saat ia tidak kuat untuk tidak menangis. Saat ia harus berusaha tegas padahal ia ingin memanjakan kita.  Di balik kerasnya ayah, di balik kekakuannya tersimpan berjuta kasih sayang.

Jika sama seperti mu ayah yang tak mampu mengungkapkan kasih sayang mu, mungkin aku juga tak mampu mengungkapkan kasih sayang ku padamu. Di malam ini aku hanya bisa menuangkan kerinduanku lewat tulisan. Setidaknya membuatku sedikit lega. Karena aku tau kalau di telfon pun bapak jarang mau ngobrol. Tidak seperti ibu yang suka cerita panjang lebar kalau di telfon. Tapi tak apa lah. Semoga bapak di rumah baik-baik aja, dan sehat tentunya. Putri mu pun di sini baik-baik aja :)

In deepest my heart... I love you :*
Putrimu
Ning